Thursday, 22 May 2014

Gundah Pecah


akhir-akhir ini aku sering menyalahkan keadaan , iya keadaan disekitarku
entah itu udara yang sangat panas sehingga membuat tubuhku seperti daging tak bertulang
sampai banyaknya nyamuk yang terlalu bersemangat menyedot darahku
hanya perkara seperti itu , hatiku serasa mudah tersulut 

aku seperti anak kecil yang mengamuk karena kelaparan
seekor sapi yang berlari karena tak mau jadi hewan qurban
marah kepada hal yang tidak pantas kujadikan alasan akan marahku

kepalaku hampir pecah , atau sebenarnya sudah pecah 
ketika banyak hal yang tersimpan dalam rak-rak di fikiranku 
rak-rak yang rapuh sudah tak sanggup lagi menahan beban
kemudian mulai mencari alasan lain yang bisa rela kujadikan pelampiasan

suatu ketika , siang itu terbangun dari istirahatku yang sebentar, segera beranjak dari pembaringanku
kemudian , aku terjatuh, seperti lumpuh , ditelingaku rasanya gaduh
dan aku hanya diam, seperti pingsan, tapi aku sadar

aku merasa ubin ini dingin sekali, mungkin Tuhan menjatuhkanku siang ini untuk merasakan dinginnya ubin rumahku ini

aku terdiam dan ....
fikiranku bak recorder yang memilih me rewind daripada meneruskan
mengingat hal-hal apa yang akhir-akhir ini membabankan 
satu dua air mata mulai menetas, kemudian puluhan lagi menggenang

aku lelah .. kepalaku serasa mau pecah ..
nanti kalaupun benar-benar pecah, akan aku biarkan ..
karena banyak hal yang menggantung tanpa jawaban , kalau pecah , yasudah mungkin itu semua akhir dari sebuah penantian 

kemudian aku berfikir lagi ... akan menjadi seperti apa dan bagaimana , dan kalau dan jika
kemudian mataku terpejam , masih di ubin yang dingin ini , nyaman 

kenapa saat aku terjatuh tadi aku tidak hilang ingatan ?
ah jangan .. aku terlalu takut kehilangan kenangan-kenangan yang tidak ingin kuhapuskan

aduh bagaimana aku ini ..
menginginkan sesuatu tapi hanya untuk sementara waktu 
dasar manusia , terlalu banyak meminta ...

Wednesday, 21 May 2014

Jarak dan Ketakutanku


Kadang ingin marah , tapi kemudian semua nya terganti dengan sebuah senyuman merekah saat aku melihat dia sudah berada di depanku dengan satu buah mawar merah..
Rasanya , ingin mengulang waktu yang sama , haruskah aku merajuk lagi untuk mendapatkan itu semua?

Aku tidak pernah menyalahkan jarak, pun aku tidak pernah menyalahka Tuhan yang sudah mempertemukan kita setelah banyak pelabuhan tempatku berhenti sementara

Kenapa jarum jam tidak berdetik selama saat aku menanti hari dimana kita akan menjadi satu lagi ?

Kenapa semuanya terasa begitu cepat saat kita berdiri pada tanah yang sama disini ?

Lagi lagi aku tidak menyalahkan jarak , pun aku tidak menyalahkan kehidupan kita
Kita memang bersama , tapi tidak untuk apa yang ada didepan kita saat ini, kita ada di medan perang kita masing-masing , kenyataannya , kamu harus berlari mengejar mimpimu, aku pun, harus terbang sampai langit ke tujuh untuk sampai ditujuanku..

Hanya aku , atau kau pun seperti itu ? yang merasa seperti  sebuah batu yang besar menancap dihatimu, berat dan menyakitkan

Sekali lagi aku tidak menyalahkan jarak, tapi bolehkah aku sekali ini menyalahkan ketakutanku sendiri ?

Aku terlalu takut saat aku sendiri , iya sendiri, saat aku harus menghadapi apa yang ada didepanku , tanpa kamu
Aku takut saat aku terjatuh , aku hanya ingin kamu yang membuatku berdiri lagi 

Tapi , kamu disana , dan aku disini ..

Apakah kamu menikmati senja yang sama seperti yang aku nikmati bersama secangkir coklat ku ini ?
Apakah kamu merasakan hembusan angin bak surga yang aku rasakan diatas sini ?

Tentu saja, karena aku yakin saat aku harus terbang, kau pun terbang tepat disisiku , di dimensi yang sama, karena saat aku memejamkan mata , kau masih terlihat disana , terlihat nyata

Tuesday, 20 May 2014

Aku dan Ribuan Kalian


aku ? tak banyak kata yang mampu aku uraikan satu persatu ketika yang lain bertanya aku siapa.
aku satu dari ribuan kalian, yang dihidupkan, kemudian diperintahkan
pun aku tertawa seperti kalian 
tersenyum seperti kalian
bahkan menangis seperti kalian
aku satu dari ribuan kalian

lalu ? lalu apa ? aku pun tak pandai berkaca, karena kaca itu menurutku bukan hal yang nyata
ketika yang lain bertanya aku siapa 
aku , satu raga yang ditiupkan jiwa, kemudian menjalani apa yang diperintahkan Sang Sutradara
aku belajar berjalan, kemudian berlari
dulunya aku disuapi, sekarang sudah makan sendiri
aku , satu raga yang ditiupkan jiwa

kemudian ? apa lagi yang kau harapkan atas apa yang kau pertanyakan ?
aku manusia yang sama
  memiliki hidung, telinga, dan mata
tidak ada yang berbeda hidungku satu, mata dan telingaku dua
aku manusia yang sama

dan ? dan kita lahir dari rahim seorang wanita yang tersentuh lembut seorang pria
tidak ada yang berbeda 
akupun  akan tidur saat mata ku sudah tak kuasa
akupun akan tertatih saat persendianku letih
tidak ada yang berbeda

tapi .. tapi satu hal yang membedakan aku dengan ribuan yang lainnya 
saat aku mulai memejamkan mata , kemudian menikmati caraku bermimpi
kita berbeda
mataku tak melihat hal yang sama denganmu, telingaku tak mendengar hal yang sama dengan milikmu, begitu juga fikiranku, saat aku harus terbang, aku tidak menuju arah yang sama dengan arahmu
sejatinya hanya itu yang membedakan aku , kamu, dan kalian

iya ... itu ... mimpi