Wednesday, 24 August 2016

Cerita Senja di Atas Awan : Awalnya , Dulu sekali




Aku tentunya saat itu menjadi wanita paling bahagia, dimana aku akhirnya menemukan seorang pria yang saat itu menerima aku apa adanya. Aku yang kemudian akan menjadi kami. Kami menghabiskan banyak waktu bersama , menikmati hangatnya matahari pagi di atas awan, mendengar desiran air bergelombang dan pasir yang basah di tepi pantai, perjalanan kami hampir sempurna. Entah mungkin banyak orang diluar sana menginginkan sebuah hubungan kasih sayang seperti yang kami jalani. Bebas tanpa ada batas.

Bebas tanpa batas ...
benar ...
tiba-tiba kami bisa ada disini dan disana , membuat cerita baru tentang perjalanan kami yang penuh cinta. Siapa yang tidak mau kisah cintanya semanis madu ? 

" I want her everywhere and if she's beside me 
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share "
Here, There, and Everywhere - The Beatles

Tapi sebenarnya tidak sesempurna itu , beberapa masalah datang selalu dengan alasan yang sama , beberapa kali, orang ketiga, tapi aku yakin hanya orang yang bodoh yang mengulangi kesalahan yang sama untuk berulang kali, karena saat itu aku meyakini dia adalah pria yang pintar. Kami atau tepatnya saya berjuang untuk selalu mempertahankan hubungan ini. Jarak diantara kami itu hanya sekedipan mata untukku, ketika alasaannya jarak aku selalu membuktikan bahwa bukan jarak yang menjadikan alasan terkadang dia merasa bosan akan ke-tidak-hadiran-ku setiap waktu disisinya, tapi karena dalam hatinya tidak melihat aku sepenuhnya.

Ketika orang berfikir kenapa sepertinya hanya aku yang berusaha keras mempertahankan semuanya, tidak, dulu , dia pun melakukan hal serupa, ketika dia melakukan kesalahan , kemudian sedetik berikutnya dia sudah berada didepan rumahku membawa bunga. Dulu sekali, dulu sekali dia memperlakukan aku seperti wanita paling cantik di dunia ini, menyayangiku sepenuh hati, berada di sisiku ketika aku sedang bersedih, selalu ingin berada dekat denganku. Dulu sekali ...

Sebenarnya aku tidak pernah mempertanyakan kenapa sekarang begini atau begitu , because people changes as what he wants. Aku masih selalu percaya dan yakin bahwa suatu saat suatu hari dia yang dulu akan kembali, kembali melihat ada sosok aku di hatinya yang tanpa cela seburuk apapun aku. Karena mungkin aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk memeikirkan kenapa begini kenapa begitu, terlalu pelik dan banyak sebabnya. Seperti musim hujan tapi tidak ada hujan, dan musim kemarau yang mendatangkan hujan deras tanpa diundang.

Siapa aku yang menuntut anak orang untuk selalu ada disisiku ?
Siapa aku yang meminta anak orang untuk selalu menghargai aku ?
karena aku tidak memiliki dia sepenuhnya
itu berarti aku memang tidak akan selalu menjadi rumah untuk dia pulang kembali

Aku adalah Senja , tidak semua menunggu dan menginginkan aku. Aku adalah senja , meskipun aku tau itu , aku menepati janjiku , untuk selalu datang ketika langit biru mulai temaram. Aku adalah senja, yang tidak selalu diharapkan, namun setia menemanimu menikmati secangkir kopi hitam mandalika. Aku adalah senja , yang kemudian hilang tertutup awan hitam , kemudian akan hadir banyak bintang yang bisa kau jadikan pilihan. 



                                                                                              Di Atas Awan, 24 Agustus 2016



                                                                                                              Aku Senja





Saturday, 28 May 2016

Melankola Tengah Malam

Mendekati tengah malam, kemudian Tuhan mengirimkan sebuah drama yang harus aku nikmati. Tidak lelah untuk selalu bertanya kapan semua ini akan berakhir, entah gulana atau bahagia, yang terpenting semuanya berakhir.

Sejujurnya aku hampir lupa rasa sebenernya menangis, karena terkadang aku genggam semuanya sampai suatu ketika sedikit-demi sedikit terlepas , aku terlalu erat, menggenggam semua harapanku, hingga saat semuanya terbang, aku diam disini, terjatuh

Aku mungkin sedang dijauhkan dari bahagia..
sedang dipisahkan dengan beruntung ..
dan sedang diasingkan dari adil ..
sehingga disaat aku berteriak memanggil , mereka tidak mendengar, karena terlalu jauh , untuk di capai dan digapai

Aku benci dengan bisikan halus dan tepukan dipundak yang berkata " ayah mu tetap bisa melihatmu dari surga"

dan sekarang aku sedang berharap ayahku tidak melihat semua itu , anak gadis yang dibesarkan dengan kasih sayang, yang dijaga dari air mata yang menetes, yang dijaga dari semua mara bahaya kini hidupnya hancur sejadi-jadinya, dihancurkannya sendiri semuanya,

Bukan salah si A, bukan salah siapa siapa
Bukan salah dia , bukan salah mereka
ini semua murni kesalahan seorang gadis kecil yang salah jalan

Aku merasa dipundakku sudah terlalu berat , sampai kadang mati rasa, tanganku tak dapat bergerak 
tidak ada yang membantu , semua hanya menyaksikan dan menikmati drama Tuhan dalam duniaku

Empati Simpati
aku rasanya sudah mau mati 
sudah lupa caranya menangis, sudah lupa caranya meminta tolong, pun orang tidak ada yang mau menolong,
Tidak jarang aku dan drama ku justru makin jatuh terlalu dalam

Kini hanya tersisa aku dan bocah kecil bermata sayu , malu-malu , tanpa dosa
bersama ibunya yang membuat malu , dan penuh dosa
Aku hanya berharap semoga dosa itu bukan penyakit, dan malu itu tidak mematikan , sehingga bocah kecil kesayanganku ini masih bisa melihat indahnya dunia

Potong saja kaki ibumu ini, kemudian ikut bawa lari keliling dunia
Potong pula tangan ibumu ini, untuk menutup telinga dari semua dosa ibu yang diperbincangkan
tapi aku tidak bisa memberikan jantungku, karena sudah hilang dari lama, kuberikan pada seseorang yang sudah senantiasa kuberikan hati , kemudian mau dimakan pula jantung ibumu ini

Nak, bisa saja besok, atau bahkan 10 detik kedepan ibumu ini mati kaku dipelukanmu
yang harus kamu ingat , kamu punya ibu yang rela berdarah untukmu , dan ayah yang baik dan mengorbankan semuanya untukmu

Dramaku masih panjang Tuhan ? bisakah aku tau sedikit kapan dan bagaimana akhirnya ?

Thursday, 22 May 2014

Gundah Pecah


akhir-akhir ini aku sering menyalahkan keadaan , iya keadaan disekitarku
entah itu udara yang sangat panas sehingga membuat tubuhku seperti daging tak bertulang
sampai banyaknya nyamuk yang terlalu bersemangat menyedot darahku
hanya perkara seperti itu , hatiku serasa mudah tersulut 

aku seperti anak kecil yang mengamuk karena kelaparan
seekor sapi yang berlari karena tak mau jadi hewan qurban
marah kepada hal yang tidak pantas kujadikan alasan akan marahku

kepalaku hampir pecah , atau sebenarnya sudah pecah 
ketika banyak hal yang tersimpan dalam rak-rak di fikiranku 
rak-rak yang rapuh sudah tak sanggup lagi menahan beban
kemudian mulai mencari alasan lain yang bisa rela kujadikan pelampiasan

suatu ketika , siang itu terbangun dari istirahatku yang sebentar, segera beranjak dari pembaringanku
kemudian , aku terjatuh, seperti lumpuh , ditelingaku rasanya gaduh
dan aku hanya diam, seperti pingsan, tapi aku sadar

aku merasa ubin ini dingin sekali, mungkin Tuhan menjatuhkanku siang ini untuk merasakan dinginnya ubin rumahku ini

aku terdiam dan ....
fikiranku bak recorder yang memilih me rewind daripada meneruskan
mengingat hal-hal apa yang akhir-akhir ini membabankan 
satu dua air mata mulai menetas, kemudian puluhan lagi menggenang

aku lelah .. kepalaku serasa mau pecah ..
nanti kalaupun benar-benar pecah, akan aku biarkan ..
karena banyak hal yang menggantung tanpa jawaban , kalau pecah , yasudah mungkin itu semua akhir dari sebuah penantian 

kemudian aku berfikir lagi ... akan menjadi seperti apa dan bagaimana , dan kalau dan jika
kemudian mataku terpejam , masih di ubin yang dingin ini , nyaman 

kenapa saat aku terjatuh tadi aku tidak hilang ingatan ?
ah jangan .. aku terlalu takut kehilangan kenangan-kenangan yang tidak ingin kuhapuskan

aduh bagaimana aku ini ..
menginginkan sesuatu tapi hanya untuk sementara waktu 
dasar manusia , terlalu banyak meminta ...

Wednesday, 21 May 2014

Jarak dan Ketakutanku


Kadang ingin marah , tapi kemudian semua nya terganti dengan sebuah senyuman merekah saat aku melihat dia sudah berada di depanku dengan satu buah mawar merah..
Rasanya , ingin mengulang waktu yang sama , haruskah aku merajuk lagi untuk mendapatkan itu semua?

Aku tidak pernah menyalahkan jarak, pun aku tidak pernah menyalahka Tuhan yang sudah mempertemukan kita setelah banyak pelabuhan tempatku berhenti sementara

Kenapa jarum jam tidak berdetik selama saat aku menanti hari dimana kita akan menjadi satu lagi ?

Kenapa semuanya terasa begitu cepat saat kita berdiri pada tanah yang sama disini ?

Lagi lagi aku tidak menyalahkan jarak , pun aku tidak menyalahkan kehidupan kita
Kita memang bersama , tapi tidak untuk apa yang ada didepan kita saat ini, kita ada di medan perang kita masing-masing , kenyataannya , kamu harus berlari mengejar mimpimu, aku pun, harus terbang sampai langit ke tujuh untuk sampai ditujuanku..

Hanya aku , atau kau pun seperti itu ? yang merasa seperti  sebuah batu yang besar menancap dihatimu, berat dan menyakitkan

Sekali lagi aku tidak menyalahkan jarak, tapi bolehkah aku sekali ini menyalahkan ketakutanku sendiri ?

Aku terlalu takut saat aku sendiri , iya sendiri, saat aku harus menghadapi apa yang ada didepanku , tanpa kamu
Aku takut saat aku terjatuh , aku hanya ingin kamu yang membuatku berdiri lagi 

Tapi , kamu disana , dan aku disini ..

Apakah kamu menikmati senja yang sama seperti yang aku nikmati bersama secangkir coklat ku ini ?
Apakah kamu merasakan hembusan angin bak surga yang aku rasakan diatas sini ?

Tentu saja, karena aku yakin saat aku harus terbang, kau pun terbang tepat disisiku , di dimensi yang sama, karena saat aku memejamkan mata , kau masih terlihat disana , terlihat nyata

Tuesday, 20 May 2014

Aku dan Ribuan Kalian


aku ? tak banyak kata yang mampu aku uraikan satu persatu ketika yang lain bertanya aku siapa.
aku satu dari ribuan kalian, yang dihidupkan, kemudian diperintahkan
pun aku tertawa seperti kalian 
tersenyum seperti kalian
bahkan menangis seperti kalian
aku satu dari ribuan kalian

lalu ? lalu apa ? aku pun tak pandai berkaca, karena kaca itu menurutku bukan hal yang nyata
ketika yang lain bertanya aku siapa 
aku , satu raga yang ditiupkan jiwa, kemudian menjalani apa yang diperintahkan Sang Sutradara
aku belajar berjalan, kemudian berlari
dulunya aku disuapi, sekarang sudah makan sendiri
aku , satu raga yang ditiupkan jiwa

kemudian ? apa lagi yang kau harapkan atas apa yang kau pertanyakan ?
aku manusia yang sama
  memiliki hidung, telinga, dan mata
tidak ada yang berbeda hidungku satu, mata dan telingaku dua
aku manusia yang sama

dan ? dan kita lahir dari rahim seorang wanita yang tersentuh lembut seorang pria
tidak ada yang berbeda 
akupun  akan tidur saat mata ku sudah tak kuasa
akupun akan tertatih saat persendianku letih
tidak ada yang berbeda

tapi .. tapi satu hal yang membedakan aku dengan ribuan yang lainnya 
saat aku mulai memejamkan mata , kemudian menikmati caraku bermimpi
kita berbeda
mataku tak melihat hal yang sama denganmu, telingaku tak mendengar hal yang sama dengan milikmu, begitu juga fikiranku, saat aku harus terbang, aku tidak menuju arah yang sama dengan arahmu
sejatinya hanya itu yang membedakan aku , kamu, dan kalian

iya ... itu ... mimpi